Kamis, 04 Oktober 2012

Nostalgia di Cepean (100m band)

Di era 80 an hampir di seluruh Nusantara tercinta sudah pernah terbangun sebuah komunitas yang penuh dengan dinamika keakraban berbasis teknologi frekuensi radio. Komunitas itu adalah pengguna frekuensi radio 3 MHz dengan gelombang radio 100 (cepe) meter band. Seringkali frekuensi ini disebut frekuensi “kolong”/underground/ karena tanpa izin secuirpun.
Frekuensi yang digunakan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan komunitas pengguna frekuensi berizin yaitu 3,5 MHz (80 meter).  Pengguna frekuensi ini sering menyebut dirinya  sebagai “barudak cepe meter”.   Call sign nya pun sesuai selera masing-masing dan terkesan seenaknya misalnya   “Tukang Sayur”, “Dewa Heuay” , “Ogie” ,  “Rozali”  , Bejo”,   Delta Capung dan banyak lagi.   Tentu saja callsign seperti itu  tidak akan pernah menggambarkan apakah briker  senior atau bukan seperti pada callsign ORARI yang didahului YD, YC atau YB. Di ORARI sangat jelas   kasta senioritas dan ketrampilan beramatiradio dilihat dari callsignnya.  Namun di frekuensi “underground”  cepe meter inilah justru nuansa kreativitas khas barudak cepean terlontar.
Jika ingin berkomunikasi dengan sesama breaker, kita harus menyamakan frekuensi pemancar (TX)  kita dengan pemancar yang sudah “on air” duluan . Caranya adalah  dengan  memutar-mutar variabel condensator logam pada rangkaian osilator pemancar sampai frekuensinya  sama  (zero beat). Proses penyamaan frekuensi ini sangat membutuhkan “feeling”.   Jika frekuensinya sudah sama, maka kita tinggal tereak brik…brik !.
Tentu saja bermain dengan TX model begini membutuhkan pengalaman cukup agar bisa trampil.  Tidak seperti pesawat komunikasi CB atau 2 meter  yang tinggal  trek…trek memutar nomor chanel.   Berbeda dengan handy talky, obrolan di 100 meter bersifat terbuka dan dapat didengar oleh siapapun yang berminat mendengar, asal punya radio transistor  SW  band.  Oleh sebab itu, para pemain cepemeter terkadang suka iseng menjadikan  pemancarnya studio radio siaran liar (broadcasting) dengan memutar lagu populer sambil bercuap layaknya penyiar radio kawakan.
Skema Final 80 - 100 m
Komunitas cepe meter mungkin “ekslusif” karena tidak semua orang mampu berkreasi, sabar berekperimen, atau menyolder komponen elektronik agar bisa meningkatkan daya pancar dan kualitas audio pemancar (TX).  Ada nuansa lomba kemampuan terselubung dalam proses ini, tapi justru inilah kekuatan komunitas cepe meter menjadi lebih mengasikkan.  Sering berbagi skema rangkaian dari hasil uji coba merupakan daya tarik tersendiri sebagai rasa kedekatan/solidaritas/keakraban sesama breaker. Dorongan untuk terus belajar teknologi radio pada sesama anggota komunitas dan berekperimen menjadi sebuah candu yang membuat cepemeter sulit ditinggalkan.  Dibandingkan dengan alat komunikasi yang “branded” seperti yang digunakan oleh CB dan 2 meteran, 100/cepe meter lebih menantang , termasuk tantangan bagaimana terhindar dari sweeping ! (razia). Hal ini pernah penulis alami, saat menjelang pemilu di jaman Orba. Semua breaker yang aktif di cepean untuk lokalan Cicurug pernah di kumpulkan di gedung UDKP Kec. Cicurug oleh komandan Koramil. Intinamah ulah ngebreak waelah. Ah, dasar keur ngora keneh. Sok ngeleyed muncul deui ari tengah peuting (ngalong). Dan akhirna di datangan ka imah oleh seorang anggota Koramil...Efek sering ngalong inilah juga sampe sekarang masih ada warisan ka penulis...insom jadina euylah..
Pemancar (TX) yang digunakan semuanya adalah rakitan dan sebagian besar menggunakan tabung radio yang dirangkai bersamaan dengan capasitor , resistor, varco logam dan beberapa lilitan untuk menentukan frekuensi kerja. Namun, tidak sedikit pula yang merakit pesawat tersebut dengan full berbasiskan komponen Transistor yang berdaya rendah untuk catu daya antara 13 - 24 volt DC.
Umumnya TX ini terdiri dari Osilator (tabung 6v6,), buffer (tabung 6L6) dan final (tabung 807 atau 813). Komponen utama tabung inilah yang mengharuskan kita hati-hati  karena pesawat pemancar memerlukan voltase tinggi antara 400 sampai 1000 Volt yang dinaikkan oleh trafo step up yang dipesan khusus saat itu di toko elektronika 'Aneka" jalan Merdeka Bogor atau mau yang lebih jauh sambil ulin pergi ke  pasar Cikapundung Bandung.
Antena Long Wire
Frekuensi kerjanya adalah 3 Mhz dengan panjang gelombangnya sekitar 300 : 3 = 100 meter. Dengan menggunakan antenna ¼ lambda maka panjang antenna harus minimal 25 meter.  Itulah sebabnya para anggota komunitas cepe meter sulit menyembunyikan diri dari sweeping (razia) karena di rumahnya terbentang kabel antenna dari depan rumah sampai belakang dengan menggunakan tiang bambu. Beberapa cepener mencoba bereksperimen dengan antene lebih pendek dengan mengulungnya pada pralon, namun hasilnya ngaberebet ke TV tetangga.  Sekali lagi itulah salah satu dinamika bermain di cepe meter. Lucu, menegangkan,….tapi menantang untuk lebih kreatif  !
Sekarang teknologi komunikasi sudah banyak berubah, ekpresi kreativitas tidak lagi digelontorkan di cepe meter, tapi di blog atau pada frekuensi lebih tinggi (VHF) sehingga antenapun tidak perlu dibentang oleh tiang bambu, tapi cukup dengan setengah meter batang alumunium, bahkan hanya disisipkan dibalik casing sebuah handphone…..Namun prinsip kerja pemancar pada dasarnya sama…Itulah sebabnya banyak alumni cepemeter berkiprah di dunia teknologi komunikasi radio frekuensi tinggi seperti HP atau studio radio siaran dan siaran komunitas yang bekerja dengan sistem modulasi frekuensi. Rasa bangga dan menjadikan tetap semangat ber-radio di cepean, jika kita mendapatkan kiriman kartu QSL dari rekan/breaker. Dengan kartu QSL ini kita sering mendapatkan laporan2 secara teknis hasil dari rakitan pesawat yang telah dibuat. Selain itu pula dengan QSL jelas rasa sosial itu ada.
Brik, brik….brik…. sero bit teu ?…….GO HED !!
Kata yang paling enggan untuk didengar tapi sering disebut-sebut oleh para aktivis cepemeter dulu bisa jadi adalah “SWEEPING”. Kata bahasa  Inggris ini memang  sangat akrab ditelinga para breaker/barudak cepemeter dan mempunyai konotasi razia bagi pengguna frekuensi 3 MHz-100 meter. Bisa dimaklumi, karena konsekuensi terkena sweeping adalah perampasan seluruh perangkat TX oleh petugas yang bisa jadi tidak akan pernah kembali. Pemancar yang sudah dirancang dan dirakit berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hilanglah sudah….! Dan harus merancang dan mencari komponen baru maupun bekas (loak) di Pasar Anyar/Kebon Kembang untuk dirakit lagi. Pasti mengesalkan.
Namun tampaknya barudak cepemeter punya cara untuk terhindar dari sweeping….walaupun antene yang membentang khas “long wire” sulit untuk disembunyikan. Kegiatan sweeping biasanya terpola waktunya…! Terkadang longgar tapi terkadang ketat. Pada saat ketat inilah para cepemeter saling kontak untuk tidak “on air” untuk sementara waktu…tiarap !  tapi tetap standby monitor. Dari pengalaman….saat–saat ketat sweeping adalah menjelang Peringatan HUT RI, Pidato Kenegaraan, Pemilu, Sidang Umum MPR. atau bahkan menjelang tanggal 30 September . Semua barudak cepe meter paham alasan sweeping di saat-saat seperti itu walaupun sebenarnya materi komunikasi di cepemeter jauh dari hal-hal yang bersifat politis apalagi provokasi. Walaupun “conggah” tapi nggak kepikiran untuk berbuat “makar” (MAwa KARep sorangan) pada Negara. Barudak cepe meter hanyalah sebagian kecil masyarakat yang ingin menumpahkan kegemarannya dalam berelektronika khususnya teknologi radio frekuensi sama seperti sekelompok orang yang lebih mampu membeli pemancar Citezen Band (CB)  dan 2 meteran “branded” yang pada saat itu relatif mahal bagi ukuran barudak cepe.
Saat-saat “tiarap” tersebut biasanya dimanfaatkan untuk bereksperimen dan mengotakngatik TX beserta Audionya biar tidak “ketinggalan” antara sinyal dan modulasi. Bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu rasa kangen dan getek untuk men”zero beat”kan TX hampir tak tertahankan namun mereka hanya bisa “wait and see”. Frekuensi 3 MHz sepi….hanya suara jeosssss, diselingi suara perempuan berbahasa china atau inggris sayup-sayup. Ada juga yang iseng On Air tapi cuma beberapa menit lalu sepi lagi..! Tapi ada juga, saking ketakutan di razia tiang bambu antene di bongkar sementara…..”meh reugreug !”  (biar tenang) katanya.
Frekuensi menjadi rame lagi ketika “hari-hari besar Negara” sudah berlalu. Tapi itupun diawali dengan keraguan untuk on air.  Para breaker yang yunior biasanya menunggu para senior,  seolah-olah komandan perang memberi aba-aba untuk maju…!

Salam ti mantan breaker cepean (Oscar Golf India Echo).


6 komentar:

  1. Baca cepemeter jadi inget masa lalu hehehe: Edy Kuda callsignnya Tukang sayur. ...... Dikelas terlihat jelas alirannya:
    - breaker
    - audiofile
    Rekan audiofile sibuk dengan ngerakit utak atik mulai preamp, equslizer, op amp, crossover sampe box speaker. Intinya naikan bass ama treble biar empuk bassnya dan bersih midlenya hakus treblenya. ..... Komunitas audiofile acuannya Chandra Gozali dengan kaset dari album Krakatau untuk menguji kualitas audio yg dihasilkan.

    Salam almamater elek 87
    Meditea

    BalasHapus
  2. Bener tah bung Medi. Aliran yang ada saat itu Audiophile dan Radio Amatir. Aliran Audio ada : Sumedi, Fauzi Bisyir, Carmen...aliran Radio Amatir ada: Nasir, Edi Yudha, Agustinus...
    Kumaha sok ngoprekan keneh teu ayena..??

    BalasHapus
  3. Klo gw alirannya apa? aliran sesat mereunnya hahaha

    BalasHapus
  4. Entemah Zal..aliran nak sia dam si ko waeh sih..baretona.. Komponenna tabungna geus kamaranamah euy rek ngarakit deui teh..mun nu transistormah loba di pasaran ge..

    BalasHapus
  5. Salam cepean ti cirebon aktif dr 82 s/d 90-an tx pake 6v6 osc 12gb7 2x anten open dipole audio pake stk 32. Posisi depan laut pinggir sungai. Pancaran pang alus na di crb. Breaker ug msh di ingat ti jkt lilin2 kecil ama alfa radio. Yd di bdg ega kr kirim qsl card org cihampelas 99 mess mhsswa. Calsign hitachi. Klo maulid nabi di crb breaker bdg byk mrpt ke crb... baheula...

    BalasHapus
  6. kalo dulu RF nyeplet masjid sekarang orang nya yg ke mesjid......cherio

    BalasHapus

Terimakasih bagi Anda yang sudah memberikan komentar di sini. Salam Alumni Elektronika 87